Ekonomi kreatif merupakan tahapan yang paling maju dalam sebuah fase pembangunan. Tahapan pembangunan biasanya dimulai dari sektor pertanian, menuju sektor manufaktur (industri), lanjut ke sektor knowledge economy dan berakhir di ekonomi kreatif. Dengan kreativitas, maka pembangunan ekonomi suatu wilayah akan lebih berkualitas  karena  esensi  sebuah  “ilmu ekonomi” adalah  bagaimana menggunakan sumber daya dengan cara lebih efisien untuk mencapai tujuan- tujuan pembangunan. Dengan kreatifitas, maka akan mengubah “mindset” kita dalam memecahkan masalah dengan lebih baik, mengubah “mindset” kita dalam menggunakan sumber daya, serta mengubah “mindset” kita terhadap lingkungan.

 

 

 

 

 

Merujuk pada Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), maka ada enam belas sub sekotor ekonomi kreatif yang masing-masing memiliki peluang terbuka untuk dikerjakan, yaitu subsektor: Aplikasi dan Pengembang Permainan, Arsitektur,   Desain   Interior,   Desain   Komunikasi   Visual,   Desain   Produk, Fashion,   Film,   Animasi,   dan   Video,   Fotografi,   Kriya,   Kuliner,   Musik, Penerbitan, Periklanan, Seni Pertunjukan, Seni Rupa, dan Televisi dan Radio.

Jawa Timur yang sejak dulu telah dikenal sebagai daerah kreatif tentu tidak ketinggalan untuk mendukung gerakan pemerintah ini. Potensi yang ada di wilayah ini selayaknya  didorong juga dan diapresiasi sebagai kekuatan ekonomi yang dapat menjadi alternatif sekaligus pendukung industri berbasis pariwisata yang telah hadir lebih dulu di Jawa Timur. Ekonomi  kreatif  adalah  sebuah  konsep  di  era  ekonomi  baru  yang mengintensifkan  informasi  dan  kreatifitas  dengan  mengandalkan  ide  dan keluasan pengetahuan dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Ekonomi akan didukung oleh jalannya industri kreatif.

Di   Jawa   Timur   khususnya   Anggota   APTIKOM  (Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer)  sudah   cukup berkembang pembinaan startup-startup di bidang digital dan pengembangan games atau usaha pemula yang menggunakan teknologi digital sebagai alat bantu usaha mereka, hasil dari ekosistem entrepreneurship APTIKOM yang tumbuh baik. Melalui MDCF (Millenial Digital Creative-Preneur Festival) 2019, masyarakat bisa mengetahui pencapaian dari startup bidang aplikasi dan permainan yang menginspirasi.

    

Untuk mendukung salah satu profil lulusan dari Prodi PTI yaitu sebagai technopreneur, maka pemahaman kewirausahaan penting dimiliki oleh mahasiswa karena mahasiswa sebagai penerus bangsa diharapkan mampu menjadi tulang punggung ekonomi di kemudian hari guna menghadapi era revolusi industri 4.0. Sehingga dengan pendidikan yang dikuasainya ia mampu menciptakan lapangan kerja, bukan menambah jumlah pengangguran setelah lulus dari sebuah perguruan tinggi. Sehingga sebisa mungkin seorang mahasiswa dituntut untuk berpikir secara kreatif terhadap peluang bisnis yang ada di masyarakat dan berani mencoba untuk memulai usaha. Dalam rangka menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan dalam bidang Pendidikan dan Teknologi yang memiliki jiwa kewirausahaan, maka Prodi PTI bekerja sama dengan APTIKOM akan menyelenggarakan workshop technopreneur dengan tema “How to Success Build Digital Startup” yang akan diikuti oleh mahasiswa dan umum.

  

  

Type your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *