Kegiatan seminar nasional pendidikan tahun 2018 diselenggarakan oleh FKIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Mengusung tema “Menjadi Guru Profesional Menuju Generasi Emas Indonesia Tahun 2045” dengan target sasaran dari kalangan pendidik, maupun calon pendidik. Untuk mendukung terlaksananya kegiatan seminar pendidikan sesuai dengan tema tersebut, maka pemateripun didatangkan dari unsur-unsur pendidik, yaitu 1) Prof. Dr. Siti Masitoh, M.Pd selaku guru besar Unesa; 2) Prof. Daniel M. Rosyid PhD selaku guru besar ITS Surabaya; dan 3) Dr. Abdoellah, M.Pd selaku Direktur Pembinaan GTK PAUD dan DIKMAS.

Pelaksanaan kegiatan bertempat di Auditorium SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo pada hari Sabtu tanggal 17 Maret 2018. Jumlah peserta yang telah hadir pada kegiatan semnas berjumlah 620 orang, terdiri mahasiswa, guru-guru, dan dosen. Prof. Dr. Siti Masitoh, M.Pd, yang diberikan kehormatan untuk pertama kali menyampaikan materi, mengemas penyampaiannya dalam judul ‘Blended Learning berwawasan literasi digital suatu upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan membangun genarsi emas 2045’.

Dalam proposal ilmiyah-nya, beliau menekankan penguatanperan sekolah dengan memperkaya metode pembelajaran dengan menggabungkan antara metode konvensional dan metode berbasis penemuan. Beliau juga menyoroti kualitas guru
yang harus lebih ditingkatkan mengingat generasi yang menjadi objek pendidikan adalah
generasi milineal yang sejak kecil sudah akrab dengan gadget.Potensi ‘melek digital’ yang
sudah menjadi konsekwensi zaman, menurut beliau harus diarahkan pada hal-hal yang
postif, nah salah satunya dengan memberikan pengetahuan literasi digital dengan blended
learning.
Materi kedua disampaikan oleh Prof. Daniel M. Rosyid, Ph.D, M.RINA. Berbeda
pandangan dengan pemateri pertama, beliau menyampaikan proposal yang cukup
kontroversial dengan mempromosikan gagasan ‘De-schooling’. Menurut beliau, sejak awal
sesungguhnya yang menjadi biang kerok pembunuh kreatifitas dan potensi natural anak-anak
manusia adalah system sekolah dan kurikulum itu sendiri. Beliau menyoroti latar belakang
disusunnya system sekolah adalah untuk mempersiapkan labour (pekerja kasar) industry
sehingga fokusnya adalah pendisiplinan dan penyeragaman, bukan pengembangan kreatifitas.
Karenanya, beliau mempromisikan gagasan SOLE (Self Organized Learning Environment)
yang memberdayakan peran keluarga sebagai institusi pendidikan dasar. “Keluarga kita ini
sekarang perannya sudah banyak diambil oleh sekolah. Sehingga sesungguhnya terjadi
pelemahan peran keluarga di masyarakat” papar beliau. Meski tampak kontra, beliau tetap
mengafirmasi pentingnya ‘Blended Learning’ dalam sudut pandang Ki Hadjar Dewantara,

 

Type your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *